05 Feb 2010
by Audiin Politik Tags: binatang, demo, demonstrasi, hewan, sibuya
Gara-gara seeokor kerbau yang namanya SiBuYa diikutkan dalam demonstrasi menjadi pusat pembicaraan akhir-akhir ini, gue jadi sadar kalau ternyata beberapa demonstran membawa hewan.
Mungkin kalau gue nggak pernah melihat langsung bagaimana demonstrasi berlangsung, gue menganggap hal ini biasa saja. Bahkan bisa dibilang lucu.
Tapi setelah gue beberapa kali “nonton” demo, kasian juga melihat hewan-hewan tersebut. Karena demo tuh capek banget. Apalagi kalau cuacanya terik. Gue saja yang pakai baju dan sepatu rasanya capek. Apalagi hewan yang nggak pakai apa-apa.
Masih mending kalau capek, gue bisa istirahat, minum atau ngomong kalau gue capek. Sedangkan hewan nggak bisa apa-apa kan.
SiBuYa bisa jadi nasibnya lebih baik bila dibandingkan dengan ayam yang dibawa oleh demonstran ke kantor KPK beberapa hari yang lalu. Karena gue baca di Twitter seorang reporter, ada seorang demonstran yang memotong leher seekor ayam. Tapi sayangnya dia memotong ayam tersebut tidak sampai mati. Kemudian ayam tersebut dilempar ke halaman gedung KPK. Sadis banget kan!
Jadi menurut gue, lebih baik hewan dilarang untuk dibawa ketika sedang berdemo. Kasihan.
15 Jan 2010
by Audiin Politik Tags: century, kompasiana
Setelah ngubek-ngubek Twitter orang, akhirnya ketemu juga artikel yang ada di Kompasiana. Judulnya “Google vs Politikus, Mabok Ludah. Krisis Gak Sih Woi!!?”.
Bagus tuh. Kudu dibaca. Bahkan Menkeu Sri Mulyani saja memakai metoda yang mirip dengan tulisan ini ketika melakukan penjelasan didepan Pansus Bank Century. Pasti kebakaran jenggot tuh yang namanya disebut disana.
Terus tadi gue nonton acara debat di tvOne. Debatnya ya tentang kasus Bank Century ini dan juga sistemik atau tidak sistemik. Duh kayaknya kok males banget ya ngeliatnya. Males lihat orang yang cuap-cuap setelah kejadiannya lewat. Pengen denger, gimana komentar mereka ketika krisis sedang terjadi. He he.
13 Jan 2010
by Audiin Politik Tags: century, dpr, krisis
Ada yang nonton rapat Pansus Bank Century DPR dengan Sri Mulyani tadi? (kayaknya pas gue bikin tulisan ini, masih berlangsung rapatnya)
Ada kejadian yang menurut gue lucu. Tadi di slide yang dipaparkan oleh Sri Mulyani, ada kutipan-kutipan dari dua orang anggota DPR yang berbicara tentang krisis yang terjadi tahun kemarin.
Kutipan-kutipan dari Maruarar Sirait dan Dradjat Wibowo yang isinya mendukung upaya pemerintah menyelamatkan perbankan Indonesia. Kutipan ini diambil tahun lalu.
Kalau kutipan tersebut dibaca tahun lalu, nggak akan jadi lucu. Tapi kalau dibaca sekarang, jadi lucu sekali kedengarannya. Karena apa yang mereka bicarakan tahun kemarin, berbeda dengan yang sekarang. Pendapat dulu dan sekarang jauh berbeda.
Sebenarnya gue sudah tahu tentang hal ini. Soalnya gue pernah baca di salah satu blog. Tapi gue lupa dimana. Kalau tidak salah sih di Kompasiana. Nanti deh kalau ketemu tulisan blog tersebut, gue share disini.
08 Jul 2009
by Audiin Politik Tags: LRI, LSI, pileg
Beberapa hari yang lalu, gue membaca berita yang menarik di detikcom. Isinya adalah LRI menantang LSI untuk menutup masing-masing lembaga jika survey yang dilakukannya meleset.
“Kalau Pilpres berlangsung satu putaran saya berani menutup lembaga saya. Tapi kalau nanti Pilpresnya dua putaran mereka juga (LSI) harus berani menutup lembaga mereka,” tantangnya.
Kalau gue liat hasil quick count yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi, keliatannya hanya akan ada 1 putaran saja pilpresnya. Kalau begitu, sepertinya Lembaga Riset Informasi (LRI) yang harus gulung tikar. Apalagi ini sudah yang kedua kalinya LRI bertaruh dan kalah.
“Saya minta LRI tutup dulu, karena waktu pileg kan dia juga pernah nantang LSI dan ternyata hasil dia yang meleset jadi saya harapkan LRI tutup dulu penuhi tantangan yang dulu, baru nantang kita lagi,” ujar peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi kepada INILAH.COM di Jakarta, Senin (8/6).
Hihihi.. gimana? tutup? Makanya, iseng sih. Pakai taruhan segala. 
*** UPDATE ***
Barusan baca, bahwa LRI akhirnya akan gulung tikar.
Presiden LRI Johan O Silalahi kepada wartawan, Rabu (8/7) malam, mengatakan, dengan kegagalan itu, dia langsung menutup secara resmi lembaga survei tersebut. “Saya konsisten akan pembicaraan beberapa hari lalu bahwa bila hasil pilpres hanya satu putaran, maka lembaga ini akan ditutup,” katanya.
Selengkapnya, bisa dibaca di kompas online, Gagal Prediksi, LRI Gulung Tikar.
03 May 2009
by Audiin Politik Tags: buruh, may day
Tanggal 1 Mei kemarin diperingati sebagai hari buruh. Biasanya disebut May Day. Dan seperti biasa, pada hari tersebut para buruh melakukan demo.

Nggak seperti demo buruh di hari buruh tahun-tahun sebelumnya (gue lupa tepat tahunnya), yang sampai rusuh di depan gedung DPR. Demo buruh tahun ini gue lihat aman-terkendali. Gue rasa, peserta demo pun nggak terlalu banyak.
Bahkan gue perhatikan, media pun (stasiun tv) nggak terlalu memberikan perhatian lebih ke demo ini. Perhatian mereka sepertinya terfokus ke Jalan Diponegoro, tepatnya di kantor Hanura. Disana mau diumumkan pencalonan capres-cawapres, JK-Wiranto.
Gue tahu hal ini karena setelah gue meliput (hayah, kayak wartawan aja) demo buruh di Bunderan HI, ketika mau menuju ke Masjid Sunda Kelapa buat sholat Jumat, gue melihat banyak banget mobil-mobil stasiun tv parkir didepan kantor Hanura. Dan memang terlihat sangat ramai disana.

Ok, kembali ke demo buruh. Ada banyak organisasi yang demo pada hari itu. Gue sendiri rencananya mau sok-sok-an jadi wartawan dengan mencatat apa yang mereka omongin dan juga siapa saja organisasi yang ikut demo. Tapi gila, cuacanya panas banget. Plus, gue lagi batuk dan pilek. Akhirnya gue memutuskan untuk foto-foto saja. hehe.
Rencananya, mereka berkumpul dulu di Bunderan HI, terus melakukan sholat Jumat disana juga (pasti macet nih), sehabis itu mereka menuju ke Istana Negara.

Btw, gue ketemu teman kuliah tuh disana. Namanya Ferry. Kayaknya dia jadi wartawan di Koran Tempo. Soalnya gue pernah lihat dia (kayaknya) ikut tes penerimaan di Koran Tempo. Tapi sepertinya dia nggak mengenali gue. Ya sudah, gue cuekin juga. 
13 Apr 2009
by Audiin Politik Tags: kpu, tabulasi
Hari ini gue ke Hotel Borobudur, tempat Tabulasi Nasional KPU diadakan. Sebenarnya sudah sejak hari Sabtu gue kesana. Tapi gue nggak berani masuk soalnya kayaknya yang boleh masuk hanya pers saja. Apalagi ditambah ketika gue bertanya ke salah satu petugas pengamanan, dia menjawab bahwa memang yang bisa masuk hanya pers saja.
Tapi setelah gue pulang (tanpa hasil), gue lihat di televisi ada seorang anak yang lebih memilih mengisi liburannya dengan berkunjung ke sana daripada ketempat lain. Ah sial, ternyata memang bisa masyarakat umum untuk berkunjung kesana. Akhirnya gue memutuskan hari ini ketempat tabulasi nasional.

Pertama-tama datang saja ke meja khusus untuk masyarakat umum. Nanti bakalan dikasih semacam name tag dan kita juga harus menyerahkan KTP disana. Baru deh sehabis itu bisa masuk ke dalam ruangan.
More
Previous Older Entries
Recent Comments